Rindik dari Desa Alasangker Tembus Pasar Dunia, Pemuda Buleleng Angkat Budaya Lewat Teknologi
Buleleng – Dengan ketekunan dan sentuhan inovasi, seorang pemuda asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Bali, berhasil membuktikan bahwa warisan budaya bisa menembus batas dunia. I Gede Edi Budiana atau yang akrab disapa Edibud, sukses mengembangkan gamelan rindik berbahan bambu hingga dikenal luas bahkan diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Jepang, Singapura, hingga Amerika Serikat.
Berangkat dari kecintaan terhadap alunan gamelan sejak kecil, Edibud mulai menekuni pembuatan rindik sejak tahun 2016 saat masih kuliah di Gianyar. Bermodal bambu bekas penjor dan semangat belajar dari para tetua, karya pertamanya bahkan langsung diminati oleh teman kosnya, yang menjadi penjualan perdananya seharga Rp300.000. Kini, usahanya berkembang lewat studio rumahan bertajuk “dE Percussion”, yang berlokasi di sebelah selatan Kampus FOK Undiksha, Jinengdalem.
“Awalnya karena senang dengar suara rindik, lalu coba-coba buat dari bambu bekas. Eh, malah temen kos tertarik dan minta dijual,” kenangnya, saat ditemui di studionya, Minggu (13/7).
Rindik yang diproduksi Edibud bukan sembarang alat musik. Ia mengombinasikan keterampilan tradisional dengan teknologi digital, menggunakan aplikasi tuner untuk menyempurnakan nada setiap bilah bambu agar sesuai dengan tangga nada selendro. “Dulu para tetua pakai feeling untuk sounding. Sekarang saya bantu dengan aplikasi, karena kuping manusia bisa keliru, teknologi bisa bantu presisi nada,” jelasnya.
Bahan bakunya pun dipilih secara khusus—menggunakan bambu Tabah dari pegunungan Bali Utara dan bambu Hitam dari Jawa. Proses pengolahan bambu dilakukan secara telaten, mulai dari perendaman selama dua bulan menggunakan cairan insektisida alami dan EM4 untuk menghilangkan zat gula, sehingga hasilnya tahan rayap dan awet digunakan.
Melalui platform media sosial seperti Instagram dan TikTok dengan nama akun dE Percussion, Edibud berhasil memasarkan produknya ke berbagai penjuru, baik dalam maupun luar negeri. Tidak hanya rindik, ia juga memproduksi alat musik bambu lainnya seperti tingklik, angklung, suling, kulkul, hingga kincir angin bernada. Harga satu set rindik buatannya dibanderol antara Rp1 juta hingga Rp8 juta, tergantung ukuran dan ukiran.
Lebih dari sekadar usaha pribadi, Edibud juga melibatkan warga di sekitarnya dalam proses produksi, mulai dari pembuatan pelawah hingga pengukiran. “Kami libatkan teman-teman sekitar juga. Ini bukan hanya soal jualan, tapi menjaga agar seni dan budaya kita tetap hidup,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda Bali yang menaruh perhatian dan cinta pada seni gamelan sebagai warisan budaya. “Potensi itu ada, hanya kadang ekonomi membuat mereka pergi merantau. Padahal, kalau ditekuni, gamelan bisa jadi sumber ekonomi juga,” pungkasnya.
Dengan kombinasi antara tradisi dan teknologi, kreativitas dan kecintaan pada budaya, Edibud membuktikan bahwa suara bambu dari Bali bisa menggema hingga ke belahan dunia lain dengan tetap berpijak pada akar lokal yang kuat. (rls/red)
Post Comment