Gek Sashi dan Ivy: Dua Bintang Muda Bali yang Bersinar di Panggung Nasional
Foto : Gek Sashi dan Ivy Dalam acara Home Coming dan Press Conference di Gedung Dharma Negara Alaya, Jumat (14/11) – (Dok. Ist)
Denpasar – Suasana hangat dan penuh haru memenuhi Dharma Negara Alaya, Jumat (14/11), ketika dua dara belia Bali, Sashi dan Ivy, kembali ke tanah Bali. Senyum keduanya tak pernah lepas sepanjang Home Coming dan Press Conference digelar, sebuah sambutan yang layak untuk generasi muda yang baru saja mengharumkan nama Pulau Dewata.
Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai, akrab disapa Sashi, baru berusia 13 tahun. Namun, langkahnya sudah sejauh panggung Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025, yang kini menjadi gelar barunya. Tingginya yang menjulang 170 sentimeter seolah mencerminkan ambisinya yang tak kalah besar.
Bagi Sashi, perjalanan menuju panggung nasional bukan sekadar kompetisi. Ada latihan catwalk, public speaking, dan berbagai pelatihan intensif lainnya. Tetapi yang paling berat baginya bukan soal langkah yang harus mantap atau senyum yang harus selalu merekah, melainkan menyiapkan advokasi anti-bullying yang ia bawa sebagai pesan utamanya.
“Advokasi saya berbicara tentang kesehatan mental dan bagaimana kita harus saling mendukung,” ucapnya dengan mata berbinar. Sashi percaya, gelar yang ia sandang kini adalah amanah untuk memberi dampak positif bagi anak-anak Indonesia.
Di sisi lain, Ivy Elizabeth Lea Sahethapy Cox, 12 tahun, tampil dengan karismanya yang khas. Dara berdarah Maluku–Australia yang besar di Bali ini meraih gelar Runner Up First Putri Batik Cilik Indonesia 2025. Dengan tinggi 167 sentimeter, Ivy tampak matang dan mantap saat berbicara tentang misi budaya yang ia emban.
“Ini adalah chapter baru dalam hidup saya,” tuturnya. Baginya, batik bukan sekadar kain, melainkan identitas bangsa yang harus terus dipromosikan, terutama kepada generasi muda yang mulai akrab dengan budaya luar.
Kebanggaan besar juga hadir dari dua ibu yang mendampingi perjalanan panjang mereka. Cokorda Istri Indah Apsari, ibu Sashi, mengenang bagaimana putrinya berjuang selama sembilan bulan melewati rasa takut, latihan sejak subuh, hingga tampil percaya diri dengan sepatu hak tinggi di panggung nasional.
“Perjalanan mereka bukan hanya tentang kompetisi, tapi proses menjadi pribadi yang lebih kuat,” ujarnya penuh haru.
Sashi dan Ivy telah membuktikan bahwa Bali tidak pernah kehabisan bakat muda yang berprestasi. Dan lebih dari itu, keduanya membawa pesan kuat: bahwa keberanian, budaya, dan kesehatan mental layak diperjuangkan dari usia berapa pun. (rls/red)


