Kearifan Lokal Mepatung: Simbol Kebersamaan yang Menggerakkan Ekonomi dan Gotong Royong
Foto : Ilustrasi Kegiatan Mepatung yang dilakukan oleh Warga Hindu di Bali (Dok. Ist)
Badung – Menjelang Hari Raya Galungan pada Rabu (19/11), umat Hindu di Bali kembali menjalankan tradisi Mepatung, sebuah kebiasaan turun-temurun untuk menyembelih hewan secara gotong royong. Tradisi ini dilakukan dengan cara patungan membeli hewan, umumnya babi, namun di beberapa wilayah juga kerbau untuk kemudian dibagikan kepada seluruh peserta sesuai porsi iuran yang telah disepakati.
Selain sebagai upaya memenuhi kebutuhan daging untuk keperluan upacara dan konsumsi perayaan Galungan, Mepatung mengandung nilai sosial yang kuat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kegotongroyongan masyarakat Hindu Bali dalam berbagi beban biaya, mempererat hubungan antarwarga, dan menjaga kebersamaan dalam mempersiapkan hari suci.
“Tradisi ini bukan hanya soal membeli daging lebih murah, tetapi tentang saling dukung dan menjaga rasa solidaritas antarwarga,” ungkap Made Suweta, warga Desa Sibang yang rutin mengikuti kegiatan Mepatung setiap Galungan.
Suweta juga menjelaskan bahwa satu kelompok Mepatung umumnya terdiri dari 6–7 orang dengan pembelian satu ekor babi seberat minimal satu kwintal. Besarnya iuran untuk berat tersebut biasanya mencapai Rp 650.000 per orang. Namun agar tidak memberatkan saat hari raya, sistem pembayaran dilakukan dengan menabung Rp 100.000 setiap bulan sejak enam bulan sebelumnya. Dana tersebut kemudian dikumpulkan oleh seorang koordinator yang dipercaya mengelola tabungan Mepatung.
“Dengan menabung per bulan, kami jadi tidak terasa terbebani saat Galungan tiba,” ujar Suweta.
Untuk perayaan kali ini, kelompok Mepatung Suweta membeli babi langsung dari peternak di desanya dengan harga Rp 44.000 per kilogram babi hidup. Proses penyembelihan dilakukan saat Hari Raya Penampahan Galungan, Selasa (18/11), sekitar pukul 05.00 WITA. Dalam waktu kurang lebih satu jam, daging telah direcah dan dibagikan sesuai jatah masing-masing peserta untuk kemudian diolah di rumah mereka.
Meski demikian, Suweta mengaku heran dengan adanya sebagian warga yang memilih menyembelih dan mengolah daging babi sehari sebelum Penampahan Galungan. Ia mempertanyakan praktik tersebut karena dinilai tidak sesuai dengan kebiasaan umum yang dilakukan pada hari Penampahan.
Tradisi Mepatung tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Galungan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan upacara, tetapi juga sebagai ruang memperkuat nilai-nilai kebersamaan hingga perekonomian yang telah mengakar dalam budaya Hindu Bali. (Adu)


