Loading Now
×

Terbaru

Mesuryak di Dauh Peken Hadirkan Sukacita Warga, Bupati Sanjaya Tekankan Pentingnya Warisan Tradisi Leluhur

Suasana penuh sukacita menyelimuti Banjar Dauh Pala, Desa Dauh Peken, Tabanan, saat tradisi Mesuryak kembali digelar pada Sabtu (29/11)

Foto : Bupati Sanjaya saat mengikuti tradisi Mesuryak Suasana Sabtu (29/11) penuh sukacita di Banjar Dauh Pala, Desa Dauh Peken, Tabanan. (Dok. Ist)

Tabanan – Suasana penuh sukacita menyelimuti Banjar Dauh Pala, Desa Dauh Peken, Tabanan, saat tradisi Mesuryak kembali digelar pada Sabtu (29/11), sehari setelah Hari Raya Kuningan. Tradisi yang berlangsung setiap enam bulan sekali ini menjadi momen sakral sekaligus meriah bagi masyarakat, dan tahun ini semakin hangat dengan kehadiran Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., didampingi istri Ny. Rai Wahyuni Sanjaya serta keluarga besar.

Tradisi Mesuryak, yang dikenal sebagai ritual penghormatan kepada leluhur dengan sorak riang dan simbol persembahan berupa lemparan uang ke udara, kembali menjadi wadah kebersamaan antarwarga. Sejak rangkaian doa dimulai, kekhidmatan terasa kuat, terlebih dengan kehadiran Camat Dauh Peken, Perbekel Desa Dauh Peken, serta para kerabat Bupati yang turut mengikuti prosesi dari awal hingga akhir.

Kehadiran Bupati Sanjaya dan Bunda Rai yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat menambah kehangatan acara. Keduanya tampak bertegur sapa dengan warga, menyapa para orang tua, hingga bercengkerama dengan anak-anak. Interaksi tersebut menciptakan suasana akrab yang merefleksikan nilai gotong royong dan kekeluargaan masyarakat Tabanan.

Setelah prosesi doa selesai, suasana berubah semakin meriah. Anak-anak berlarian memungut uang hasil lemparan Mesuryak, sementara tawa dan sorak warga menggema di sepanjang banjar. Momen ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antarwarga dan keluarga.

Bupati Sanjaya dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya atas keberlanjutan tradisi Mesuryak sebagai kekayaan budaya Tabanan.
“Tradisi Mesuryak ini adalah wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Kita patut bangga karena budaya seperti ini masih dijaga dengan penuh kesadaran dan kebersamaan. Saya melihat sendiri bagaimana warga, dari anak-anak hingga orang tua, terlibat dengan sukacita. Inilah kekuatan budaya kita menyatukan, menguatkan, dan memberi energi positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Sanjaya juga menekankan pentingnya memastikan generasi muda memahami makna tradisi tersebut.
“Kita berkewajiban menjaga warisan leluhur ini agar tetap hidup dan diwariskan kepada anak cucu. Tradisi seperti Mesuryak bukan hanya ritual, tetapi jembatan yang menghubungkan kita dengan nilai-nilai kearifan lokal yang harus terus kita pelihara,” tambahnya. (inwa)

Kabar Bali Terkini